Sinopsis "Badik Titipan Ayah"


                Sumber: daengbattala.com

Diceritakan, putri tunggal Karaeng Tiro dan Karaeng Caya yaitu Andi Tenri memutuskan untuk silariang (kawin lari) bersama kekasihnya Andi Firman yang telah menghamilinya atas permintaannya sendiri. Mengapa Tenri melakukan silariang? Karena hubungannya tidak direstui oleh orang tuanya. Orang tua Tenri dan orang tua Firman, telah terjadi saling konflik sehingga menimbulkan rasa dendam. Yang dimana, rasa dendam itu sampai ke anak cucunya yaitu Firman.

Singkat cerita, pada malam hari, Tenri bergegas keluar dari rumahnya sambil membawa barangnya yang ia bawa, yang dimana ia dijemput dengan kekasihnya membawa kendaraan motor. Sebelum Tenri pergi dari rumah, ia menulis sebuah surat untuk ibunya dan ia menunggu semua orang dirumahnya dipastikan sudah tidur. Sesaat Tenri sudah pergi bersama kekasihnya, ibu Tenri mengetok pintu kamar Tenri tetapi tidak ada respon sama sekali. Kemudian, ibu Tenri masuk kekamarnya ia menemukan sebuah pesan surat yang ditulis oleh Tenri. Lalu, ibu Tenri membaca isi pesan itu sambil berteriak "Teteh!!!". Permasalahan semakin rumit ketika orang tua Tenri sudah mengetahui bahwa ia telah kawin lari. Maka, dengan cara terpaksa Karaeng Tiro yang sudah tidak kuat lagi dan sudah tua membuatnya untuk menghubungi anak sulungnya yaitu Andi Aso (Reza Rahardian) untuk menyelesaikan masalah tersebut. Setelah itu, Aso mendapatkan SMS dari tettanya. Ia ingin berbicara penting. Setelah Aso mengangkat teleponnya, tetta berbicara dengan nada keras bahwa ia menyuruhnya untuk pulang, pergi langsung ke terminal. Sementara itu, Aso lagi sibuk menyelesaikan skripsinya. Tetapi tetta bersih keras agar Aso pulang sekarang. Kemudian, tetta memberitahukan bahwa adiknya lari dari rumah (silariang). Membuat Aso kaget mendengar dari ucapan tettanya. 

Orang tua Tenri sangat kecewa atas apa yang ia perbuat. Mempermalukan keluarganya sendiri. Suasana dirumah Tenri semakin kacau. Kemudian, besok paginya  Aso pulang kerumahnya di Bira. Sesampainya dirumah, Aso menanyakan kapada ibunya kalau keberadaan Tenri belum diketahui sama sekali. Kata ibu Tenri, bahwa ia mau menyelesaikan permasalahannya secara diam-diam. Ia tidak mau kalau orang-orang tahu kalau Tenri silariang. Tidak lama kemudian, tetta memanggil Aso membicarakan tentang masa kecil Aso. Setiap ia kecil, tetta selalu menasehatinya tentang pentingnya menjaga siri'. Bukan hanya harkat dan martabat sendiri tapi harkat dan martabat keluarga. Ia memberitahukan kepada Aso bahwa adiknya silariang. Tindakannya itu appakasiri (mempermalukan), keluarganya di appakasiri dipermalukan oleh laki-laki ini. Tetta juga mengatakan seandainya tetta sehat, saya akan menyelesaikan permasalahan ini sambil memberikan sebuah badik kepada Aso. Kemudian, tetta mengatakan cari mereka selesaikan masalah ini sesuai adat kita. Tidak lama kemudian, Aso menemui seorang kakek, ia menjelaskan bahwa di ujung badik ini telah banyak darah yang mengalir, darah musuh, darah penjajah, dan darah pengkhianat. Dari generasi ke generasi, badik ini selalu membela kehormatan keluarga. Kemudian, Aso menemui keluarga si Firman dikediaman rumahnya, memperbincangkan soal keberadaan Tenri. Tidak lama kemudian, terjadi kegaduhan dengan orang tua Firman. Sehingga tetangga-tetangga berkumpul. Selepasnya pulang dari rumah Firman, Aso mengatakan kalau ia tidak bisa menggunakan badik itu, tetapi tettanya bersih keras agar Aso membawa badik itu untuk mencari mereka. Karena, Aso hanya salah satu anak laki-laki dirumah itu. 

Beberapa hari kemudian, Aso kembali ke Makassar dengan membawa badik dari tettanya. Sesampainya di Makassar, Aso menyempatkan untuk membaca surat dari adiknya (Tenri). Besok paginya, Aso pergi kekampus dan dia diberitahukan bahwa adiknya sekarang berada di daerah Maros. Sesampainya disana, ternyata Tenri beserta suaminya sudah tidak ada karena ada urusan penting. Kemudian, Aso diberi tahu bahwa Tenri dan suaminya sekarang berada diterminal menuju ke Bira. Sesampainya diterminal, Aso mencari keberadaan mereka. Tiba-tiba, mobil pete-pete yang dinaiki Tenri dan suaminya ban belakangnya bocor. Supir itu menyuruh semua penumpangnya agar pindah mobil. Tidak lama kemudian, Firman melihat Aso dengan Limpo berada dibelakang mobil pete-pete tersebut. Tepat disamping pete-pete tersebut tetapi Aso sama sekali tidak melihatnya. Beberapa hari kemudian, tetta dikabarkan jatuh sakit membuat dia merasakan tidak berdaya. Walapun tetta jatuh sakit, tapi ia masih sempat menanyakan kepada Aso apakah ia sudah menemukan Tenri atau belum. Setibanya Aso dikampus, ia ditelepon tiba-tiba dikabarkan Karaeng Tiro atau tetta telah meninggal dunia. 

Pada saat Tenri bersama Firman dan anaknya sudah pulang dari Makassar, maka Aso dan Limpo yang melihatnya langsung marah dan ingin membunuh mereka berdua dengan menikam badik. Tapi, amarah Aso mulai redam ketika ibunya menasehati mereka untuk tidak saling dendam. Tapi, karena badik sudah terlanjur keluar dari sarungnya, maka Limpo pun menikam pahanya sebagai pertanda bahwa harus ada darah yang tertumpah pada hari itu juga. Karaeng Caya pun tegar menghadapi kematian suaminya yaitu Karaeng Tiro, dan mempersatukan kembali keluarga mereka yang sudah retak, karena baginya keluarga adalah segalanya.

Pesan yang ingin disampaikan pada film ini yaitu kawin lari (silariang) itu sangat di benci oleh warga Makassar. Karena, menyimpang dari aturan adat orang Makassar dan berkonsekuensi siri' (harga diri).

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Linguistik: Ilmu tentang Bahasa dan Struktur Kebahasaan

Akhir dari Perjalanan Gfriend Season of Memories

Bahasa Indonesia di Era Digital: Antara Pelestarian dan Perubahan