Delapan Kesalahan Tata Bahasa yang Sering Tak Disadari!

Ilustrasi tangan seseorang menunjuk buku | Foto: (Pexels | Yaroslav Shuraev)



Menulis mungkin terasa mudah, tetapi apakah sudah sesuai dengan kaidah tata bahasa yang benar? Tanpa disadari, banyak orang sering melakukan kesalahan yang tampak sepele, tetapi berpengaruh pada makna kalimat. Berikut adalah tujuh kesalahan tata bahasa yang sering terjadi!

1. Pemakaian Kata "Di" yang Keliru
Banyak orang masih bingung dalam membedakan kapan "di" harus dipisah dan kapan harus disambung. Aturan sederhananya:

"Di" sebagai kata depan → dipisah

  • di rumah, di sekolah, di kantor

"Di" sebagai imbuhan → disambung

  • dikerjakan, dicetak, dikirim

Kesalahan umum

  • di kerjakan ❌ → dikerjakan
  • di cetak ❌ → dicetak

📌 Tips cepat: Tambahkan kata "oleh" setelahnya. Jika masih masuk akal, maka kata "di" harus disambung.

2. "Merubah" atau "Mengubah"?
Bentuk yang benar adalah "mengubah", bukan "merubah".

❌ "Saya ingin merubah pola pikir saya."
✅ "Saya ingin mengubah pola pikir saya."

Kata dasarnya adalah "ubah", bukan "rubah" (hewan). Oleh karena itu, bentuk yang benar adalah "mengubah".

3. Penulisan Kata "Pun" yang Tepat
Kata "pun" sering kali disalahgunakan, terutama dalam konteks yang seharusnya menggunakan kata "juga".

❌ "Bagaimanapun caranya, saya harus berhasil."
✅ "Bagaimanapun juga caranya, saya harus berhasil."

Namun, dalam beberapa konteks, "pun" boleh digabung, misalnya:
✅ "Apa pun yang terjadi, saya akan tetap berusaha."

4. Penggunaan "Daripada" yang Tidak Tepat
"Daripada" digunakan untuk membandingkan dua hal, bukan untuk mengulang subjek yang sama.

❌ "Lebih baik saya diam daripada saya dihina."
✅ "Lebih baik saya diam daripada dihina."

Jika subjeknya sudah jelas, maka tidak perlu dituliskan kembali.

5. Kata yang Berlebihan dalam Kalimat
Sering kali, kita menambahkan kata yang sebenarnya tidak diperlukan.

❌ "Naik ke atas, turun ke bawah, maju ke depan."
✅ "Naik, turun, maju."

Kata "ke atas", "ke bawah", dan "ke depan" sebenarnya sudah tersirat dalam kata kerja tersebut. Oleh karena itu, penggunaan tambahan tersebut tidak perlu.

6. "Dimana" dan "Kenapa" dalam Kalimat Formal
Dalam tulisan formal, "dimana" dan "kenapa" tidak digunakan.

❌ "Saya tidak tahu dimana dia tinggal."
✅ "Saya tidak tahu di mana dia tinggal."

❌ "Kenapa kamu datang terlambat?"
✅ "Mengapa kamu datang terlambat?"

Gunakan "di mana" dan "mengapa" agar lebih sesuai dengan kaidah bahasa baku.

7. Kesalahan dalam Penggunaan Tanda Baca
Satu tanda baca dapat mengubah makna kalimat secara drastis.

❌ "Mari makan teman-teman!"
✅ "Mari makan, teman-teman!"

Tanpa koma, kalimat tersebut bisa diartikan sebagai ajakan untuk "memakan teman". Oleh karena itu, tanda baca sangat penting dalam menyampaikan maksud yang benar.

8. Kesalahan Kecil tetapi Sering Terjadi
Beberapa kata sering ditulis tidak sesuai dengan ejaan yang benar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

❌ "Sekedar" → Se kadar (salah)
✅ "Sekadar" → Se + kadar (benar)

❌ "Atlit" → Atlet
✅ "Atlet" adalah bentuk baku dalam KBBI.

Kesalahan kecil ini mungkin terlihat sepele, tetapi dalam penulisan yang baik dan benar, memperhatikan ejaan yang tepat sangat penting.

📌 Simpulan 
Meskipun tampak sederhana, kesalahan-kesalahan ini dapat mengurangi ketepatan dalam berkomunikasi. Dengan memahami aturan tata bahasa yang benar, tulisan kita akan menjadi lebih jelas, efektif, dan profesional.

Dari delapan poin di atas, mana yang paling sering kamu lakukan atau adakah kesalahan lain yang sering kamu temui? Yuk, bagikan di kolom komentar! ⬇️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Linguistik: Ilmu tentang Bahasa dan Struktur Kebahasaan

Akhir dari Perjalanan Gfriend Season of Memories

Bahasa Indonesia di Era Digital: Antara Pelestarian dan Perubahan